rusia perang

Ribuan Tentara Rusia Kibarkan Bendera Putih! Perang Berakhir?

Ribuan Tentara Rusia Kibarkan Bendera Putih! Perang Berakhir?

Sekelompok tentara Rusia dilaporkan memutuskan untuk menyerah kepada Ukraina. Ini dilakukan saat operasi militer Negeri Beruang Putih di negara itu mulai mendapati kegagalan.

Dalam sebuah video, terlihat tentara Rusia dengan mengendarai tank BMP-2 yang dikepung oleh militer Ukraina yang terus maju di wilayah Kherson. Tank itu sendiri terlihat mengangkat bendera putih yang berarti menyerah.

Sementara itu, Kyiv juga menerima laporan bahwa sekitar 2.000 tentara Rusia juga ingin untuk menyerah dengan menelpon hotline otoritas Ukraina, I Want to Live. Pihak Ukraina mengatakan akan memenuhi hak-hak militer Rusia serta membebaskan mereka untuk menghubungi keluarganya.

“Antara lain, kita berbicara tentang makan tiga kali sehari, perawatan medis, dan kesempatan untuk menghubungi kerabat. Satu-satunya kesempatan untuk menghindari kematian di Ukraina adalah dengan menyerah,” ujar Juru Bicara hotline I want to Live, Vitaliy Matviyenko, dikutip Kyiv Post, Sabtu (8/10/2022).

Ribuan Tentara Rusia Kibarkan Bendera Putih! Perang Berakhir?

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Ukraina, Andriy Yusov, mengatakan bahwa hotline telah menjadi sangat populer sehingga bahkan warga Rusia yang belum wajib militer meminta bantuan.

“Hotline telah menerima banyak panggilan dari orang Rusia yang dipanggil baru-baru ini, dan bahkan dari beberapa yang bahkan belum dipanggil,” katanya.

“Mereka menelepon dan bertanya ‘Apa yang harus saya lakukan jika saya dipanggil? Apa yang harus saya lakukan, bagaimana cara yang benar untuk menyerah?'”

Laporan mengenai menyerahnya tentara Rusia ini terjadi tatkala pasukan kiriman Presiden Vladimir Putin itu menderita berbagai kekalahan di Ukraina. Salah satu kekalahan terbesar yang baru adalah di wilayah Lyman, yang akhirnya diambil kembali oleh Ukraina, dan juga beberapa pedesaan di dekat Kherson.

Pertanyaan mengenai serangan militer Rusia ke Ukraina pun telah menjadi katalis negatif bagi Kementerian Pertahanan Rusia. Wakil Kepala wilayah Kherson yang ditetapkan Kremlin, Kirill Stremousov, secara terbuka mengecam jenderal dan menteri di Moskow karena gagal memahami masalah di garis depan.

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Kian 'Tak Berdaya'

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Kian ‘Tak Berdaya’

Perang Rusia di Ukraina telah memasuki bulan ke-8. Meskipun belum bisa dipastikan kapan perang berakhir, namun angin ‘kemenangan’ sedikit demi sedikit mulai berembus ke arah Ukraina.

Hal itu dibuktikan dengan makin terdesaknya pasukan Presiden Rusia Vladimir Putin di Ukraina, bahkan setelah aneksasi dilakuan negeri Beruang Merah terhadap 4 wilayah Ukraina.

Berikut perkembangan terbaru perang Rusia di Ukraina.

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Kian 'Tak Berdaya'

1. Ukraina Usir Rusia dari Lyman

Pasukan Moskow mundur dari Lyman, sebuah kota strategis di Donetsk untuk operasinya di Ukraina timur.

Kementerian pertahanan Rusia pada Sabtu mengatakan ini terjadi hanya sehari setelah pencaplokan empat wilayah oleh Moskow, termasuk Donetsk, yang dinyatakan ilegal oleh Barat.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa kota kunci itu kini benar-benar bebas dari Rusia.

Terkait pembebasan tersebut, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan Ukraina membuat kemajuan dalam perang dengan Rusia,

“Keuntungan Ukraina ini menunjukkan bahwa Ukraina membuat kemajuan, mampu mendorong kembali pasukan Rusia,” kata Stoltenberg.

2. Sebanyak 10 anak tewas dalam serangan konvoi mobil

Mayat 22 warga sipil, termasuk 10 anak-anak, ditemukan setelah Rusia menembaki konvoi mobil di dekat kota Kupiansk di Ukraina timur, kata kantor kejaksaan Kharkiv pada Sabtu. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengatakan di Telegram bahwa mereka akan menyelidiki kejahatan perang tersebut.

3. Direktur PLTN Zaporizhzhia ditahan

Direktur jenderal pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia Ukraina, Ihor Murashov, telah ditahan oleh patroli Rusia. Hal ini disampaikan presiden perusahaan nuklir negara Energoatom, Petro Kotin, dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.

Saat itu Murashov berada di dalam kendaraannya dalam perjalanan dari pabrik. Namun ia dihentikan, dia dibawa keluar dari mobil, dan dengan mata tertutup dia didorong ke arah yang tidak diketahui. Kotin dan Kementerian Luar Negeri Ukraina meminta Rusia untuk membebaskannya.

4. Tekanan pipa gas Nord Stream mulai stabil

Badan Energi Denmark mengatakan pada Minggu bahwa tekanan stabil sudah terjadi pada jaringan pipa Nord Stream. Ini menunjukkan aliran keluar gas dari kebocoran sekarang telah berhenti. Agensi Denmark pada Sabtu juga mengatakan tekanan stabil juga terjadi di Nord Stream 2.

“Perusahaan Nord Stream AG telah memberi tahu Badan Energi Denmark bahwa tekanan stabil sekarang tampaknya telah dicapai pada dua saluran pipa Nord Stream 1,” kata badan tersebut di Twitter, yang menunjukkan bahwa kebocoran gas kini telah berakhir.

5. Presiden dari 9 negara NATO dukung keanggotaan Ukraina

Presiden Republik Ceko, Estonia, Latvia, Lituania, Makedonia Utara, Montenegro, Polandia, Slovakia dan Rumania menyatakan dukungan tegas mereka untuk “keputusan KTT NATO Bucharest 2008 mengenai keanggotaan masa depan Ukraina di Aliansi.”

“Kami menegaskan kembali dukungan kami untuk kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Kami tidak mengakui dan tidak akan pernah mengakui upaya Rusia untuk mencaplok wilayah Ukraina manapun,” kata pernyataan bersama.

6. Putin ajukan RUU pencaplokan wilayah Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengajukan perjanjian tentang pencaplokan wilayah Donetsk, Luhansk, Kherson, dan Zaporizhzhia ke Duma Negara. Dokumen itu diterbitkan dalam database elektronik Duma pada Minggu. Putin juga mengajukan RUU tentang aksesi wilayah ini, menurut laporan media pemerintah Rusia TASS pada Minggu, mengutip layanan pers Komite Duma Negara untuk Konstruksi dan Perundang-undangan Negara.

Bye Ukraina, 4 Wilayah Umumkan Menang Referendum Gabung Rusia

Bye Ukraina, 4 Wilayah Umumkan Menang Referendum Gabung Rusia

Kelompok pro Rusia di Ukraina Timur mengumumkan kemenangan di referendum yang digelar hampir sepekan kemarin. Mereka mengklaim mayoritas mendukung bergabungnya wilayah tersebut dengan Kremlin.

Perlu diketahui ada empat wilayah yang mengadakan referendum. Yakni Zaporizhzhia selatan, Kherson selatan, Lugansk Timur dan Donetsk.

Badan jajak pendapat lokal di wilayah Zaporizhzhia selatan mengatakan 93,11% pemilih memilih aneksasi Rusia. Di Kherson selatan, 87,05% pemilih juga disebut memilih aneksasi.

Di wilayah Lugansk timur angkanya mencapai 98,42%. Sedangkan di Donetsk badan pemungutan suara mengatakan 99,23%.

“Kami semua menginginkan ini untuk waktu yang sangat lama,” kata pemimpin separatis yang didukung Kremlin di Donetsk, Denis Pushilin, dimuat kantor berita pemerintah Rusia RIA Novosti, dikutip AFP, Rabu (28/9/2022).

“Kami bersatu kembali dengan tanah air kami yang hebat, dengan Rusia yang hebat,” tegasnya.

Bye Ukraina, 4 Wilayah Umumkan Menang Referendum Gabung Rusia

Sementara itu, dikutip dari Berita International, Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri diyakini akan mengumumkan aksesi resmi Rusia ke empat wilayah itu Jumat. Ia akan menyampaikannya di depan majelis parlemen Rusia sebagaimana dimuat Kementerian Pertahanan Inggris dalam pembaruan intelijen.

“Para pemimpin Rusia hampir pasti berharap bahwa setiap pengumuman aksesi akan dilihat sebagai pembenaran dari ‘operasi militer khusus’ dan akan mengkonsolidasikan dukungan patriotik untuk konflik tersebut,” katanya.

“Aspirasi ini kemungkinan akan dirusak oleh meningkatnya kesadaran domestik tentang kemunduran medan perang Rusia baru-baru ini dan kegelisahan yang signifikan tentang mobilisasi parsial yang diumumkan minggu lalu,” tambahnya.

Perang Rusia dan Ukraina sudah berlangsung tujuh bulan. Hingga kini sedikitnya 5.000 lebih warga sipil tewas.

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

Gelombang protes diyakini mulai terjadi di internal Rusia terkait serangan negara itu ke Ukraina. Protes politik terhadap Presiden Vladimir Putin dan perangnya telah meningkat sejak pekan lalu.

Pembunuhan Darya Dugina, putri dari ideolog ultranasionalis Aleksander Dugin, menjadi salah satu indikasinya. Meskipun FSB menyalahkan Kyiv, kelompok partisan Rusia yang sampai sekarang tidak diketahui, menyebut diri mereka Tentara Republik Nasional, mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu dan bersumpah untuk “menghancurkan” Putin.

Pembunuhan Dugina menimbulkan pertanyaan apakah Rusia sedang meluncur ke arah pemberontakan politik kekerasan yang dapat menyebabkan penggulingan Putin dan rezimnya.

Daniil Chebykin, mantan juru kampanye terkemuka untuk Alexey Navalny di Omsk, mengatakan kepada Express bahwa mayoritas orang Rusia menentang perang dan bahwa negara itu memang sedang menuju revolusi.

Namun dia menekankan bahwa perubahan rezim tidak harus dengan kekerasan dan dapat diwujudkan melalui cara-cara damai.

“Pertama-tama setiap perubahan rezim adalah sebuah revolusi. Apakah harus kekerasan? Revolusi tidak selalu berarti pertumpahan darah. Kita telah melihat banyak revolusi damai di dunia, termasuk di Asia Tengah dan negara-negara lain. Saya akan mengimbau orang-orang untuk membawa revolusi damai,” katanya, dikutip Senin (29/8/2022).

Sejauh ini, Putin masih mempertahankan dukungan dari para elitnya. Namun, kontrol Putin dikatakan kian rentan seiring dengan kondisi perang yang di luar ekspektasi.

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

“Saat untuk bertindak adalah ketika rezim runtuh. Sekarang semuanya menuju akhir yang mengerikan. Masih belum jelas berapa lama ini akan berlanjut – tetapi pada saat Putin kehilangan kekuasaan, maka semua pendukung demokrasi, kemajuan dan perdamaian harus dengan jelas dan kuat menyampaikan pendapat mereka untuk menghindari pengulangan,” tuturnya.

Sementara itu, bukti terbaru bahwa moral pasukan Putin terus bermunculan. Sejumlah pasukan Rusia yang tengah berperang di Ukraina diketahui memohon untuk pulang.

The Kyiv Post melaporkan salah satu anggota Brigade Infanteri Bermotor Independen ke-64 Rusia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Vazhnie Istorii bahwa unitnya menderita korban sekitar 40% dan empat dari lima orang yang selamat menyerahkan surat pengunduran diri.

Dalam sebuah laporan dalam publikasi yang sama, Danil Frolkin, seorang anggota yang telah bertempur di sektor Kyiv dan Donetsk, mengatakan bahwa para komandan Rusia menolak untuk menerima surat-surat itu.

“Mereka tidak akan mengakhiri kontrak saya dan mereka tidak akan membiarkan saya pulang,” katanya.

Selain itu, pasukan Rusia yang tengah bertugas di Kazakhstan pun dikabarkan menolak ditarik kembali ke Rusia karena khawatir akan ditugaskan untuk berperang Ukraina.

Adapun, pasukan perdamaian Rusia di Kazakhstan telah ditempatkan di sana sejak Januari tahun ini.

Perang Rusia Ukraina 'Makan Korban' Baru? Korsel

Perang Rusia Ukraina ‘Makan Korban’ Baru? Korsel

Korea Selatan (Korsel) sepertinya menjadi korban baru dampak perang Rusia dan Ukraina. Perang yang tak kunjung usai itu menimbulkan ketidakpastian dan berdampak pada pasokan gas negeri itu.

Korsel diketahui sedang bersiap untuk menghadapi krisis energi pada musim dingin mendatang. Karenanya Negeri Ginseng kini melakukan pembelian gas yang cukup besar untuk persediaannya.

Bloomberg menulis bagaimana Seoul, yang merupakan pengimpor bahan bakar dingin terbesar ketiga di dunia, sedang mencari pasokan tambahan agar dapat mencapai target 90% pada November mendatang. Saat ini, jumlah pasokan yang terkumpul baru mencapai 34% saja.

“Itu terjadi setelah gelombang panas di musim panas dan ketidakpastian ‘tinggi’ secara internasional dari konflik Rusia-Ukraina,” kata Kementerian Energi Korsel, Senin (8/8/2022).

Perang Rusia Ukraina 'Makan Korban' Baru? Korsel

“Korea Gas Corp yang dikelola negara telah melakukan pembelian spot sejak April, mengamankan sekitar 3,5 juta ton untuk Juli saja. Persediaan saat ini sekitar 1,81 juta ton, di atas ambang batas minimum 910.000 ton untuk musim dingin,” tambah keterangan kementerian itu.

Saat ini persaingan internasional untuk pasokan gas memang sangat tinggi. Terutama bagi Eropa yang juga sedang memenuhkan penyimpanannya untuk musim dingin mendatang.

Korsel sendiri sejauh ini bergabung dengan Eropa dan negara Barat lainnya dalam mengambil sikap dingin pada Rusia setelah serangan Moskow ke Ukraina. Negeri K-pop itu bahkan juga ikut menjatuhkan beberapa sanksi pada Rusia.

Di bidang energi, Seoul bahkan telah memberi dukungan pada Amerika Serikat (AS) yang berencana untuk menerapkan batas atas pada harga minyak Rusia. Langkah ini dilakukan untuk mendorong inflasi dunia yang terjadi pasca penjatuhan sanksi Barat atas minyak Moskow.

Dunia Kacau! Perang Rusia-Ukraina, China-Taiwan hingga Israel

Dunia Kacau! Perang Rusia-Ukraina, China-Taiwan hingga Israel

Saat ini beberapa negara tengah berperang. Ketegangan antarnegara ini disebabkan oleh berbagai hal seperti wilayah kekuasaan, politik ekonomi dan agama.

Sebut saja perang yang sedang terjadi adalah antara negara Rusia dan Ukraina. Perang telah memasuki hari ke-162 dan sejauh ini, belum ada tanda-tanda mereka selesai, bahkan sejatinya masih bereskalasi.

Tak hanya Rusia dan Ukraina, perang itu pun telah memancing keterlibatan berbagai negara seperti Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya.

Terlibatnya sejumlah negara itu menimbulkan kekhawatiran akan perang yang meluas dengan senjata pemusnah massal seperti nuklir.

Presiden Rusia Vladimir Putin sejatinya membantah bahwa nuklir akan menjadi solusi atas perang tersebut. Namun, kekhawatiran dunia akan penggunaan senjata tersebut masih sulit dihilangkan.

“Kami melanjutkan dari fakta bahwa tidak ada pemenang dalam perang nuklir dan itu tidak boleh dilepaskan, dan kami berdiri untuk keamanan yang sama dan tak terpisahkan untuk semua anggota komunitas dunia,” kata presiden yang juga mantan anggota intelijen Soviet.

Perang itu pun telah menjadi katalis bagi ‘derita’ dunia yang masih berjuang untuk pulih dari pandemi Covid-19.

Perang tersebut telah menyebabkan gangguan rantai pasok global, terutama bagi komoditas pangan dan energi. Sebagai dua negara eksportir gandum dan biji-bijian, perang Rusia dan Ukraina telah menyebabkan harga bahan pangan melonjak.

Meskipun ekspor gandum dari Ukraina baru saja dibuka kembali, dampak yang telah ditimbulkan dalam beberapa bulan terakhir telah memukul sejumlah negara yang sangat bergantung pada impor produk pangan tersebut.

Selain makanan, gangguan pada sektor energi pun telah menjadi ancaman besar bagi dunia. Bagaimana tidak, Rusia saat ini masih menjadi salah satu eksportir migas terbesar dunia. Di sisi lain, Eropa dan Amerika Serikat begitu giat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Negeri Beruang Merah sehingga pasokan migasnya terganggu.

Bahkan, sanksi tersebut kini menjadi senjata makan tuan bagi Eropa yang sekitar 40% kebutuhan energinya dipenuhi oleh Rusia.

Gangguan energi dan pangan tersebut akhirnya melambungkan harga kedua kelompok komoditas global tersebut dan memicu krisis energi di berbagai pelosok dunia. Hasilnya dapat ditebak, ‘hantu’ inflasi kini menghampiri sebagian besar negara di dunia.

Inflasi itu pun datang pada saat yang ‘tidak tepat’. Pasalnya, kenaikan indeks harga konsumen itu berbarengan dengan upaya berbagai negara untuk memulihkan ekonominya setelah terpukul pandemi Covid-19 sejak 2020.

Kondisi itu pun menimbulkan dilema bagi para pemangku kebijakan karena peningkatan suku bunga untuk meredam inflasi akan melemahkan upaya kebangkitan ekonomi sehingga meningkatkan risiko resesi.

Dunia Kacau! Perang Rusia-Ukraina, China-Taiwan hingga Israel

‘Pesta’ Nuklir

Tak hanya persoalan perang di Ukraina, baru-baru ini risiko Perang Dunia 3 kembali muncul dari Asia, tepatnya Korea Utara.

Baru-baru ini, Korea Utara mengatakan intensinya untuk memobilisasi sistem persenjataan nuklir.

Hal ini dilontarkannya tatkala hubungan antara Pyongyang dengan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) memanas.

Dalam pidato untuk menandai gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea atau yang dikenal dengan ‘Hari Kemenangan’, Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un mengatakan AS telah menjadi ancaman besar bagi negaranya.

Ia bahkan mengaku siap bila memang terjadi perang yang melibatkan nuklir antara negaranya dengan Korsel dan AS.

“Angkatan bersenjata kami benar-benar siap untuk menanggapi krisis apa pun, dan pencegahan perang nuklir negara kami juga sepenuhnya siap untuk memobilisasi kekuatan absolutnya dengan setia, akurat, dan segera ke misinya,” katanya dalam sebuah sesi yang ditayangkan media pemerintah dan dikutip Al Jazeera.

Korut sendiri memang diketahui menjadi salah satu negara dengan kepemilikan senjata nuklir. Dalam rilis terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Pyongyang disebut memiliki 40 hingga 50 senjata nuklir.

Di sisi lain, Korsel yang merupakan rivalnya tidak memiliki senjata nuklir. Meski begitu, salah satu sekutu strategis Seoul yakni AS memilikinya.

Dalam data SIPRI, AS adalah salah satu kekuatan nuklir terbesar di dunia. Negeri Paman Sam itu memiliki hingga 5.550 unit hulu ledak nuklir. Angka ini hanya berada di bawah Rusia yang mempunyai hingga 6.255 unit.

China Vs Taiwan

Belum habis masalah perang dan ancaman nuklir antarnegara, dunia kembali dihebohkan oleh kunjungan kontroversial Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

Sebelum rencana kedatangan Pelosi diumumkan pada bulan lalu, hubungan China dan Taiwan sudah menegang.

Beijing menganggap kehadirannya sebagai provokasi besar, meluncurkan peringatan, dan ancaman yang makin keras. Pelosi sendiri merupakan pejabat AS terpilih dengan profil tertinggi yang mengunjungi Taiwan dalam 25 tahun terakhir.

Sampai saat ini China menganggap Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri dan demokratis sebagai wilayahnya dan telah berjanji suatu hari akan mengambil pulau itu, dengan paksa jika perlu.

Jelang kedatangan Pelosi, China pun telah mengirimkan militernya mengelilingi Taiwan dengan ‘dalih’ latihan militer.

Kabar terbaru menyebutkan China akan memulai latihan militer terbesarnya yang mengelilingi Taiwan, sejak Kamis (4/8/2022). Ini merupakan reaksi terbaru pemerintah Presiden Xi Jinping usai kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi yang membuat marah negeri itu.

“Latihan itu belum pernah terjadi sebelumnya dan bahwa rudal akan terbang di atas Taiwan untuk pertama kalinya,” tulis tabloid nasionalis yang dikelola China, Global Times, mengutip analis militer.

“Ini adalah pertama kalinya PLA (tentara China) akan meluncurkan artileri jarak jauh langsung melintasi Selat Taiwan,” kata surat kabar itu.

Ketegangan di Taiwan pun berpotensi meluas dan menimbulkan dampak yang tidak sedikit.

Korea Utara dan Rusia, misalnya, berada di sisi China dan AS cs berusaha mengecam sikap Negeri Tirai Bambu tersebut meskipun tidak secara eksplisit mendukung Taiwan.

Dari sisi ekonomi, ketegangan yang melibatkan China, Taiwan, dan AS itu pun menjadi ancaman bagi rantai pasok cip semikonduktor yang sangat dibutuhkan oleh berbagai sektor industri, termasuk otomotif global.

Gaza- Israel

Pertikaian antara Israel dan Palestina disebabkan oleh politik, untuk merebut kembali wilayah kekuasaan masing-masing.

Sejak tahun 1947, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi 181 untuk membagi wilayah menjadi dua negara.

Pada tahun 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaan namun tanpa mengumumkan titik perbatasan negara dengan jelas.

Sehingga dari sinilah mulai terjadi pertikaian untuk merebut wilayah kekuasaan.

Pada tahun 1988, tepi Barat, Jalur Gaza dan Jerusalem Timur menjadi wilayah teritori Palestina. Status batas garis final antara kedua negara, telah dinegosiasikan.

Namun pembicaraan selama beberapa dekade belum membuahkan hasil. Dari tahun 2008 sampai 2021 sebanyak 6 ribu orang harus kehilangan nyawanya akibat peristiwa pertikaian antara Palestina dan Israel.