cuaca dan musim

Cuaca 'Neraka' Terjang India, Korban Jiwa Berjatuhan

Cuaca ‘Neraka’ Terjang India, Korban Jiwa Berjatuhan

Suhu selama musim hujan di India terus meningkat. Pemerintah mengatakan negara itu dapat mengalami lebih sering gelombang panas di masa depan.

India mengalami suhu terpanas pada Maret dalam lebih dari satu abad tahun ini. Suhu yang luar biasa tinggi juga tercatat pada April dan Mei akibat perubahan iklim. Pemerintah mengatakan gelombang panas biasa terjadi antara April dan Juni.

“Suhu rata-rata selama musim hujan ditemukan meningkat dalam dua dekade terakhir,” kata menteri ilmu pengetahuan dan teknologi dan ilmu bumi India, Jitendra Singh, kepada parlemen, Rabu (3/8/2022), melansir¬†Reuters.

“Pemanasan Samudra Hindia tropis dan peristiwa El Nino yang lebih sering di masa depan dapat menyebabkan gelombang panas yang lebih sering dan tahan lama di India,” tambahnya.

El Nino ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik. Ini menyebabkan hujan lebat dan banjir di Amerika Selatan dan cuaca panas di Asia dan bahkan Afrika timur.

Cuaca 'Neraka' Terjang India, Korban Jiwa Berjatuhan

Singh mengatakan suhu rata-rata India selama musim hujan Juni-September naik menjadi hampir 28,4 derajat celcius tahun lalu dari kurang dari 28 derajat celcius pada tahun 2001.

Meski begitu, kematian terkait panas telah turun dalam beberapa tahun terakhir, menurut data yang diberikan oleh Singh kepada anggota parlemen yang mengutip laporan surat kabar.

Untuk tahun ini hingga Juli, India mencatat 24 kematian, sementara tahun lalu tidak ada kasus kematian, dan 25 kematian pada tahun 2020. Jika dibandingkan dengan angka tertinggi dalam beberapa tahun, gelombang panas tahun 2019 menelan 505 kematian.

Namun Singh tidak mengatakan mengapa ada lebih sedikit kematian dalam beberapa tahun terakhir. Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dari 1998-2017, lebih dari 166.000 orang meninggal karena gelombang panas secara global.

Dikatakan bahwa antara tahun 2030 dan 2050, perubahan iklim diperkirakan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun akibat kekurangan gizi, malaria, diare, dan tekanan panas.