berita rusia ukraina

Kesaksian Mengerikan Mantan Tawanan Rusia di Ukraina

Kesaksian Mengerikan Mantan Tawanan Rusia di Ukraina

Mantan tawanan pasukan Rusia memberikan kesaksiannya kepada anggota Parlemen AS.

Yuliia Paievska menceritakan pengalaman mengerikannya dipenjara selama berbulan-bulan di wilayah yang diduduki Rusia. Paievska mengungkapkan kebrutalan pasukan Rusia dalam cara mereka memperlakukan orang Ukraina.

Dia mengatakan bahwa pasukan juga sangat kejam terhadap tawanan Ukraina yang ditangkap.

“Ketika penyiksa saya menyarankan saya untuk bunuh diri, saya berkata ‘tidak’, katanya saat berbicara kepada Komisi Keamanan dan Kerjasama AS di Eropa, dikutip Express, Senin (19/9/2022).

“Saya akan melihat apa yang terjadi besok. Saya bertanya-tanya seberapa jauh mereka bisa pergi dalam kegilaan dan kemarahan mereka. Dan kemudian, suatu hari, ketika tampaknya tidak ada harapan, seseorang melihat ke dalam lubang yang dalam dan memanggil nama saya,” tuturnya.

Kesaksian Mengerikan Mantan Tawanan Rusia di Ukraina

“Ambil barang-barangmu dan keluar,” kata Paievska.

“Beginilah perjalanan saya menuju kebebasan dimulai.”

Paievska adalah seorang paramedis yang misinya, katanya, “menyelamatkan nyawa” di kota barat daya Mariupol.

Dia ditahan di kota barat daya Mariupol pada Maret ketika pasukan Rusia menyerbu wilayah tersebut dan menahannya. Dia menghabiskan tiga bulan pertama di tahanan antara Maret dan Juni.

Dia juga menggambarkan bagaimana pasukan Rusia memukuli seorang tentara Ukraina selama tiga jam sebelum melemparkannya “seperti kaus kaki” ke ruang bawah tanah, sebuah praktik umum di penjara Rusia, katanya.

“Kemudian dalam siksaan neraka ini, satu-satunya hal yang mereka rasakan sebelum kematian adalah pelecehan dan rasa sakit tambahan,” katanya, menambahkan bahwa dia secara pribadi melihat beberapa orang mati di tahanan.

“Tahanan dipaksa untuk menanggalkan pakaian mereka oleh pembunuh mereka sebelum mereka dibunuh perlahan dan dengan pembantaian,” imbuhnya.

Sejak awal perang, pasukan Rusia telah menggunakan pedoman itu, menangkap dan mendeportasi orang Ukraina ke Rusia di mana mereka menderita siksaan.

Liudmyla Denisova, mantan Ombudsman untuk Hak Asasi Manusia di Ukraina, mengatakan pada Maret bahwa 134.000 orang telah diambil dari Mariupol dan 33.000 dideportasi secara paksa.

Di sisi lain, Rusia secara konsisten membantah menargetkan warga sipil dan berkali-kali menolak disebut melakukan kekerasan terhadap tawanan perang.

Putin di Ujung Tanduk, Rekaman Suara Ini Jadi Bukti Nyatanya

Putin di Ujung Tanduk, Rekaman Suara Ini Jadi Bukti Nyatanya

Pasukan Rusia dilaporkan berada di ujung tanduk. Ini merujuk pada sebuah percakapan tentara negara itu di Ukraina mengenai kegagalannya.

Rekaman itu disadap dan disebar oleh Kementerian Pertahanan Ukraina beberapa waktu lalu, dan dianggap jadi bukti semangat tentara Rusia yang hancur. Dalam panggilan telepon selama satu menit itu, orang Rusia berkata ,”drone mereka ada yang di atas … bayangkan drone atau quadcopter di sana,” seperti dikutip dari Express, Minggu (4/9/2022).

“Dan orang-orang kita tidak bisa berbuat apa-apa tentang drone ini. Tidak bisa menghentikan mereka, tidak bisa berbuat apa-apa,” lanjutnya.

Menurut orang Rusia, “angkatan udara kami kacau”. Dia juga menceritakan sebuah helikopter mendekat lalu menembakkan satu kali dari jarak lima kilometer, berikutnya pergi.

Putin di Ujung Tanduk, Rekaman Suara Ini Jadi Bukti Nyatanya

Sehari sebelum rekaman percakapan itu dirilis, dilaporkan Rusia kehilangan 20 pesawat dalam satu hari. Jumlah tersebut menjadi yang pertama sejak perang dunia kedua pecah.

Hilangnya pesawat tersebut akibat serangan yang dilakukan pada pangkalan udara Saky di Krimea. Dalam citra satelit menunjukkan ada 10 pesawat dilenyapkan, meski dalam laporan angkanya jauh lebih banyak.

Berdasarkan laporan analis independen di Oryx, empat jet tempur SU-30 SM telah dihancurkan. Selain itu ada lima pesawat pengebom SU24M dan pesawat pengintai.

Menurut Oryx, setidaknya Rusia kehilangan 47 pesawat hingga pertengahan Agustus lalu. Sekitar seperlimanya berasal dari pangkalan Saku di Novofedorivka.

Konflik Rusia-Ukraina Segera Berakhir, Ini Bocoran Tetangga

Konflik Rusia-Ukraina Segera Berakhir, Ini Bocoran Tetangga

Konflik Rusia dan Ukraina yang berlangsung berbulan-bulan diramalkan akan segera berakhir. Perkiraan ini diungkapkan oleh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.

Dia mengatakan saat ini “Ukraina sedang terbelah” dan ‘”onflik sedang terjadi antara presiden dan militer”, dikutip dari situs berita yang disponsori Rusia, Minggu (4/9/2022).

Tentara Ukraina, menurutnya sebagai kekuatan di negara itu dan bisa “memukul meja dan berkata: mari kita bicara atau Ukraina akan dimusnahkan dari muka Bumi”. Namun militer negara tersebut juga disebut “melihat bahwa itu tidak ada harapan”.

Konflik dua negara, dia menyebutkan dapat berubah menjadi “konfrontasi paling mengerikan”. Di mana, akan ada penggunaan senjata pemusnah massal.

Konflik Rusia-Ukraina Segera Berakhir, Ini Bocoran Tetangga

Lukashenko juga tetap membela sekutunya, Rusia. Dia meyakini jika negara yang dipimpin presiden Vladimir Putin itu bisa menang. Menurutnya, “Rusia tidak dapat menderita kekalahan di sana”.

Selain itu, dia berpendapat operasi militer yang dilakukan Moskow bersifat pre-emptive. Yakni dalam rangka membantu mencegah serangan rudal Ukraina di Belarusia bagian selatan, termasuk pada pasukan Rusia yang saat itu belum ditarik setelah latihan militer.

Pada akhir Februari, Putin mengumumkan serangan Moskow ke Ukraina. Namun menurut Lukashenko, serangan militer Rusia telah terjadi setengah jam sebelumnya, yakni dengan mengambil unit rudal Ukraina.

Lukashenko juga meyakini pihak Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) akan melakukan segala cara membuat Rusia bertekuk lutut. Namun menurutnya hal tersebut tak akan terjadi.

“Dan Rusia tidak dapat berlutut,” kata dia.

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

Gelombang protes diyakini mulai terjadi di internal Rusia terkait serangan negara itu ke Ukraina. Protes politik terhadap Presiden Vladimir Putin dan perangnya telah meningkat sejak pekan lalu.

Pembunuhan Darya Dugina, putri dari ideolog ultranasionalis Aleksander Dugin, menjadi salah satu indikasinya. Meskipun FSB menyalahkan Kyiv, kelompok partisan Rusia yang sampai sekarang tidak diketahui, menyebut diri mereka Tentara Republik Nasional, mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu dan bersumpah untuk “menghancurkan” Putin.

Pembunuhan Dugina menimbulkan pertanyaan apakah Rusia sedang meluncur ke arah pemberontakan politik kekerasan yang dapat menyebabkan penggulingan Putin dan rezimnya.

Daniil Chebykin, mantan juru kampanye terkemuka untuk Alexey Navalny di Omsk, mengatakan kepada Express bahwa mayoritas orang Rusia menentang perang dan bahwa negara itu memang sedang menuju revolusi.

Namun dia menekankan bahwa perubahan rezim tidak harus dengan kekerasan dan dapat diwujudkan melalui cara-cara damai.

“Pertama-tama setiap perubahan rezim adalah sebuah revolusi. Apakah harus kekerasan? Revolusi tidak selalu berarti pertumpahan darah. Kita telah melihat banyak revolusi damai di dunia, termasuk di Asia Tengah dan negara-negara lain. Saya akan mengimbau orang-orang untuk membawa revolusi damai,” katanya, dikutip Senin (29/8/2022).

Sejauh ini, Putin masih mempertahankan dukungan dari para elitnya. Namun, kontrol Putin dikatakan kian rentan seiring dengan kondisi perang yang di luar ekspektasi.

Putin Makin Pening, Ada Pemberontakan dan Pasukan Ogah Perang

“Saat untuk bertindak adalah ketika rezim runtuh. Sekarang semuanya menuju akhir yang mengerikan. Masih belum jelas berapa lama ini akan berlanjut – tetapi pada saat Putin kehilangan kekuasaan, maka semua pendukung demokrasi, kemajuan dan perdamaian harus dengan jelas dan kuat menyampaikan pendapat mereka untuk menghindari pengulangan,” tuturnya.

Sementara itu, bukti terbaru bahwa moral pasukan Putin terus bermunculan. Sejumlah pasukan Rusia yang tengah berperang di Ukraina diketahui memohon untuk pulang.

The Kyiv Post melaporkan salah satu anggota Brigade Infanteri Bermotor Independen ke-64 Rusia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Vazhnie Istorii bahwa unitnya menderita korban sekitar 40% dan empat dari lima orang yang selamat menyerahkan surat pengunduran diri.

Dalam sebuah laporan dalam publikasi yang sama, Danil Frolkin, seorang anggota yang telah bertempur di sektor Kyiv dan Donetsk, mengatakan bahwa para komandan Rusia menolak untuk menerima surat-surat itu.

“Mereka tidak akan mengakhiri kontrak saya dan mereka tidak akan membiarkan saya pulang,” katanya.

Selain itu, pasukan Rusia yang tengah bertugas di Kazakhstan pun dikabarkan menolak ditarik kembali ke Rusia karena khawatir akan ditugaskan untuk berperang Ukraina.

Adapun, pasukan perdamaian Rusia di Kazakhstan telah ditempatkan di sana sejak Januari tahun ini.

Perang Rusia Ukraina 'Makan Korban' Baru? Korsel

Perang Rusia Ukraina ‘Makan Korban’ Baru? Korsel

Korea Selatan (Korsel) sepertinya menjadi korban baru dampak perang Rusia dan Ukraina. Perang yang tak kunjung usai itu menimbulkan ketidakpastian dan berdampak pada pasokan gas negeri itu.

Korsel diketahui sedang bersiap untuk menghadapi krisis energi pada musim dingin mendatang. Karenanya Negeri Ginseng kini melakukan pembelian gas yang cukup besar untuk persediaannya.

Bloomberg menulis bagaimana Seoul, yang merupakan pengimpor bahan bakar dingin terbesar ketiga di dunia, sedang mencari pasokan tambahan agar dapat mencapai target 90% pada November mendatang. Saat ini, jumlah pasokan yang terkumpul baru mencapai 34% saja.

“Itu terjadi setelah gelombang panas di musim panas dan ketidakpastian ‘tinggi’ secara internasional dari konflik Rusia-Ukraina,” kata Kementerian Energi Korsel, Senin (8/8/2022).

Perang Rusia Ukraina 'Makan Korban' Baru? Korsel

“Korea Gas Corp yang dikelola negara telah melakukan pembelian spot sejak April, mengamankan sekitar 3,5 juta ton untuk Juli saja. Persediaan saat ini sekitar 1,81 juta ton, di atas ambang batas minimum 910.000 ton untuk musim dingin,” tambah keterangan kementerian itu.

Saat ini persaingan internasional untuk pasokan gas memang sangat tinggi. Terutama bagi Eropa yang juga sedang memenuhkan penyimpanannya untuk musim dingin mendatang.

Korsel sendiri sejauh ini bergabung dengan Eropa dan negara Barat lainnya dalam mengambil sikap dingin pada Rusia setelah serangan Moskow ke Ukraina. Negeri K-pop itu bahkan juga ikut menjatuhkan beberapa sanksi pada Rusia.

Di bidang energi, Seoul bahkan telah memberi dukungan pada Amerika Serikat (AS) yang berencana untuk menerapkan batas atas pada harga minyak Rusia. Langkah ini dilakukan untuk mendorong inflasi dunia yang terjadi pasca penjatuhan sanksi Barat atas minyak Moskow.

Sederet Bukti Kekalahan Putin Tinggal Menunggu Waktu

Sederet Bukti Kekalahan Putin Tinggal Menunggu Waktu

Agresi militer yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina mulai mencapai garis finish. Berbagai bukti menunjukan perang yang sudah berlangsung sejak Februari 2022 ini dimenangkan oleh Ukraina.

Seorang pakar keamanan asal Inggris, Profesor Anthony Glees mengungkapkan, pasukan Rusia dinilai menghadapi banyak masalah selama perang di Ukraina, karena menghadapi peningkatan kerugian.

Profesor emeritus di Universitas Buckingham tersebut, secara gamblang mengungkapkan, negara yang menyerang berpotensi besar menghadapi kekalahan yang signifikan.

“Kami dan Amerika menilai bahwa 75.000 tentara Rusia telah terbunuh atau terluka… Itu sangat banyak. Dan 80z5 pasukan aktif Rusia sekarang terjebak di timur Ukraina,” ujar Gless dilansir Newsweek, Sabtu (6/8/2022).

“Putin berharap untuk memenangkan perang ini dalam beberapa hari, dan apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa perang itu berjalan, bukan menuju jalan buntu, tetapi kekalahan. Tampaknya jika pertempuran Kherson berakhir dengan menguntungkan Ukraina, Rusia akan menderita kekalahan yang signifikan,” imbuhnya.

Glees mengutip laporan terbaru lainnya dari Richard Moore, Kepala MI6 Inggris, yang mengklaim bahwa Rusia mungkin kehabisan tenaga.

“Kepala MI6 memiliki bentuk dalam memprediksi apa yang akan terjadi,” ujar Glees.

“Dia mengatakan Rusia akan menyerang Ukraina ketika banyak yang meragukannya. Kita perlu mendengarkan dengan cermat apa yang dia katakan-dan Rusia perlu mendengarkan apa yang dia katakan, dan saya harap mereka akan melakukannya.”

Wilayah Oblast Kherson terletak di Ukraina Selatan, terletak di sepanjang Laut Hitam dan berbatasan dengan semenanjung Krimea, yang dianeksasi Rusia pada tahun 2014. Mengingat nilai strategisnya, Kherson adalah salah satu provinsi pertama di Ukraina yang berada di bawah pendudukan Rusia setelah dimulainya perang pada akhir Februari 2022.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Ukraina telah melipatgandakan upaya mereka untuk merebut kembali provinsi itu dari Rusia.

Pada Kamis, Kementerian Pertahanan Inggris melaporkan bahwa Ukraina “mengumpulkan momentum” dalam perjuangan untuk merebut kembali Kherson dan menggunakan rudal yang disediakan AS untuk menghancurkan beberapa jembatan yang digunakan pasukan Rusia untuk membawa pasokan.

Hanna Shelest, direktur program studi keamanan di lembaga kebijakan luar negeri dan keamanan, Prism Ukraina, sebelumnya mengatakan bahwa pasukan Ukraina tidak memprioritaskan provinsi tertentu di atas provinsi lain, melainkan berfokus pada tujuan yang paling logis.

“Semua wilayah itu penting,” kata Shelest. “Kami tidak memprioritaskan satu atau lain cara, itu hanya di mana kami bisa melakukannya sekarang.”

Sedikit lebih dari enam bulan setelah pasukan Rusia berbaris di perbatasan Ukraina, laporan menunjukkan 5.000 kendaraan dan peralatan berat lain milik Rusia telah hilang.

Situs analisis pertahanan intelijen Belanda, Oryx, menyebutkan jumlah totalnya adalah 5.010. Ditambahkan bahwa 3.193 di antaranya telah hancur, 103 rusak, 323 ditinggalkan dan 1.391 ditangkap.

Putin Berencana Kabur dari Rusia

Sederet Bukti Kekalahan Putin Tinggal Menunggu Waktu

Presiden Rusia Vladimir Putin juga dilaporkan tengah mempersiapkan rencana evakuasi darurat dari Rusia. Persiapan ini dilakukan untuk kemungkinan Ukraina menang dalam perang yang sedang berlangsung.

Informasi ini diungkapkan melalui saluran Telegram General SVR, yang konon dijalankan oleh orang dalam Kremlin.

“Putin sendiri dan rombongannya sedang mempersiapkan rencana untuk evakuasi dari Rusia,” ungkap informasi tersebut, dilansir Express, Sabtu (6/8/2022).

Dugaan rencana evakuasi artinya Putin beserta keluarganya dibawa keluar dari Rusia dan masuk ke Suriah, negara sahabat terdekat. Mereka akan terbang melalui wilayah udara Turki, salah satu anggota aliansi NATO.

Namun jika Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menolak akses penerbangan Putin ke wilayah udara, ini akan secara efektif menggagalkan seluruh evakuasi.

Sementara itu, dilaporkan Iran menjadi negara lain yang mungkin tertarik dengan nasib Putin. Dikatakan Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Erdogan diduga mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan jika Putin membutuhkan suaka.

“Pada prinsipnya, bermanfaat bagi Iran dan Turki untuk menjaga presiden Rusia di pengasingan sebagai cadangan, menggunakannya, tergantung pada situasinya, sebagai pengungkit atau sebagai alat tawar-menawar,” ungkap informasi tersebut.

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Buka Pintu Negosiasi

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Buka Pintu Negosiasi

Perang Rusia dan Ukraina makin panas setelah memasuki hari ke-161. Meski begitu, di tengah saling gempur, kedua negara ini telah menandatangani perjanjian terpisah sehingga ekspor gandum dan biji-bijian dari Ukraina kembali berlayar.

Pengiriman biji-bijian pertama yang meninggalkan Ukraina di bawah kesepakatan dilaporkan telah mencapai Turki. Kapal yang terdaftar di Sierra Leone, Razoni, berlayar dari pelabuhan Odesa menuju Lebanon pada Senin (1/8/2022) di bawah kesepakatan yang ditengahi oleh Turki dan PBB.

Kapal telah diperiksa oleh anggota Pusat Koordinasi Gabungan, dan kini diharapkan untuk bergerak melalui Selat Bosporus pada Rabu (3/8/2022).

Selain hal ini, berikut fakta-fakta terbaru terkait perang Rusia-Ukraina, seperti dirangkum oleh The Guardian.

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Buka Pintu Negosiasi

1. Pengungsi dari Ukraina Capai 10 Juta Orang

PBB mengatakan ada lebih dari 10 juta orang telah menyeberangi perbatasan masuk dan keluar dari Ukraina sejak Rusia meluncurkan serangan pada 24 Februari. Data yang dikumpulkan oleh UNHCR menyatakan bahwa 6.180.345 pengungsi individu dari Ukraina sekarang tercatat di seluruh Eropa, dengan 1,25 juta pengungsi masuk ke Polandia.

2. Operasi Rusia di Ukraina

Dalam pengarahan operasi terbarunya, kementerian pertahanan Rusia mengklaim bahwa serangannya terhadap Radekhov di wilayah Lviv “menghancurkan pangkalan penyimpanan dengan senjata dan amunisi buatan asing yang dikirim ke rezim Kyiv dari Polandia”.

Sebelumnya gubernur Lviv mengakui pemogokan tersebut. Ia mengatakan “satu bangunan rusak. Untungnya, tidak ada yang terluka.”

3. Warga Sipil Melarikan Diri dari Kherson

Kementerian pertahanan Inggris mengatakan kemungkinan akan ada peningkatan warga sipil yang mencoba melarikan diri dari Kherson dan daerah sekitarnya karena permusuhan berlanjut dan kekurangan makanan memburuk, memberi tekanan pada rute transportasi.

Mereka juga mengatakan ada serangan Ukraina terhadap kereta amunisi Rusia di Oblast Kherson, Ukraina selatan. Ini artinya “sangat tidak mungkin” jalur kereta api antara Kherson dan Krimea beroperasi.

4. Instalasi Nuklir

Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Mykola Tochytskyi, mengulangi permintaan negaranya agar langit di atas instalasi nuklir ditutup untuk mencegah potensi kecelakaan dan penyalahgunaannya.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, fasilitas nuklir sipil telah diubah menjadi target militer dan batu loncatan bagi tentara Rusia yang melanggar ketentuan non-proliferasi tentang penggunaan energi nuklir secara damai,” katanya.

“Dunia menyaksikan bagaimana terorisme nuklir, yang disponsori oleh negara pemilik senjata nuklir, muncul dalam kenyataan. Diperlukan aksi bersama yang kuat untuk mencegah bencana nuklir skala global. Kami meminta untuk menutup langit di atas pembangkit listrik tenaga nuklir di Ukraina,” tambahnya.

5. Negosiasi Putin

Gerhard Schroeder, mantan kanselir Jerman dan teman Vladimir Putin, mengatakan presiden Rusia menginginkan solusi yang dinegosiasikan untuk perang di Ukraina dan kesepakatan tentang pengiriman biji-bijian yang mungkin menawarkan jalan ke depan.

“Kabar baiknya adalah bahwa Kremlin menginginkan solusi yang dinegosiasikan,” kata Schroeder kepada mingguan Stern dan penyiar RTL/ntv, menambahkan bahwa dia telah bertemu Putin di Moskow pekan lalu.

“Keberhasilan pertama adalah kesepakatan biji-bijian, mungkin itu bisa perlahan diperluas menjadi gencatan senjata,” tambahnya.

6. Data Palsu Bantuan ke Ukraina

Pengungsi Ukraina kemungkinan akan menjadi korban dari meningkatnya ketegangan dan kampanye disinformasi di negara mereka, menurut sebuah laporan dari badan amal World Vision.

Menurut mereka, informasi palsu yang membesar-besarkan berapa banyak bantuan yang diterima pengungsi dibandingkan dengan masyarakat lokal, serta menghubungkan pengungsi dengan kejahatan kekerasan dan ekstremisme politik, dapat menyebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat lokal.

Rusia: AS Terlibat Langsung di Perang Ukraina, Ini Buktinya

Rusia: AS Terlibat Langsung di Perang Ukraina, Ini Buktinya

Rusia menuduh Amerika Serikat terlibat langsung dalam perang Ukraina. Adapun, Negeri Paman Sam telah mengirim sejumlah persenjataan berat seperti sistem HIMARS untuk pihak Kyiv.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan komentar yang dibuat oleh Vadym Skibitsky, Wakil Kepala Intelijen Militer Ukraina, kepada surat kabar Inggris Telegraph menunjukkan bahwa Washington terlibat dalam konflik meskipun ada pernyataan bahwa pihaknya membatasi perannya pada pasokan senjata.

Skibitsky mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa ada konsultasi antara pejabat intelijen AS dan Ukraina sebelum serangan dan Washington memiliki hak veto yang efektif pada target yang dimaksudkan. Namun, dalam laporan tersebut, pejabat AS tidak memberikan informasi terkait penargetan langsung.

Rusia: AS Terlibat Langsung di Perang Ukraina, Ini Buktinya

“Semua ini tidak dapat disangkal, membuktikan bahwa Washington, bertentangan dengan klaim Gedung Putih dan Pentagon, terlibat langsung dalam konflik di Ukraina,” kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters, Rabu (3/8/2022).

“Pemerintahan Biden bertanggung jawab langsung atas semua serangan roket yang disetujui Kyiv di daerah permukiman dan infrastruktur sipil di daerah berpenduduk Donbas dan daerah lain, yang telah mengakibatkan kematian massal warga sipil,” lanjut pernyataan tersebut.

Tidak ada reaksi langsung dari Gedung Putih atau Pentagon terhadap pernyataan kementerian tersebut.

Namun, Pentagon menyangkal klaim Moskow bahwa Rusia telah menghancurkan enam sistem rudal HIMARS buatan AS sejak dimulainya perang Ukraina.

Rusia menyatakan secara teratur mampu melumpuhkan sistem persenjataan tersebut. Namun, sejauh ini belum ada buktinya.

Sebaliknya, Ukraina dan Barat yang dipimpin AS menuduh Rusia melakukan serangan rudal terhadap sasaran sipil setiap hari yang selalu dibantah oleh moskow.