berita perang rusia ukraina

Konflik Rusia-Ukraina Segera Berakhir, Ini Bocoran Tetangga

Konflik Rusia-Ukraina Segera Berakhir, Ini Bocoran Tetangga

Konflik Rusia dan Ukraina yang berlangsung berbulan-bulan diramalkan akan segera berakhir. Perkiraan ini diungkapkan oleh Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.

Dia mengatakan saat ini “Ukraina sedang terbelah” dan ‘”onflik sedang terjadi antara presiden dan militer”, dikutip dari situs berita yang disponsori Rusia, Minggu (4/9/2022).

Tentara Ukraina, menurutnya sebagai kekuatan di negara itu dan bisa “memukul meja dan berkata: mari kita bicara atau Ukraina akan dimusnahkan dari muka Bumi”. Namun militer negara tersebut juga disebut “melihat bahwa itu tidak ada harapan”.

Konflik dua negara, dia menyebutkan dapat berubah menjadi “konfrontasi paling mengerikan”. Di mana, akan ada penggunaan senjata pemusnah massal.

Konflik Rusia-Ukraina Segera Berakhir, Ini Bocoran Tetangga

Lukashenko juga tetap membela sekutunya, Rusia. Dia meyakini jika negara yang dipimpin presiden Vladimir Putin itu bisa menang. Menurutnya, “Rusia tidak dapat menderita kekalahan di sana”.

Selain itu, dia berpendapat operasi militer yang dilakukan Moskow bersifat pre-emptive. Yakni dalam rangka membantu mencegah serangan rudal Ukraina di Belarusia bagian selatan, termasuk pada pasukan Rusia yang saat itu belum ditarik setelah latihan militer.

Pada akhir Februari, Putin mengumumkan serangan Moskow ke Ukraina. Namun menurut Lukashenko, serangan militer Rusia telah terjadi setengah jam sebelumnya, yakni dengan mengambil unit rudal Ukraina.

Lukashenko juga meyakini pihak Barat, khususnya Amerika Serikat (AS) akan melakukan segala cara membuat Rusia bertekuk lutut. Namun menurutnya hal tersebut tak akan terjadi.

“Dan Rusia tidak dapat berlutut,” kata dia.

Kacau! Ternyata Ini Biang Kerok Rusia & Ukraina Batal Damai

Kacau! Ternyata Ini Biang Kerok Rusia & Ukraina Batal Damai

Rusia dan Ukraina rupanya sempat mencapai kesepakatan damai pada April lalu. Pengakuan tersebut dilontarkan oleh Fiona Hill, diplomat veteran Amerika Serikat (AS) yang menjabat sebagai direktur senior Dewan Keamanan Nasional AS untuk Eropa dan Rusia dalam pemerintahan Donald Trump.

Dalam sebuah artikel yang ditulis bersama Profesor Angela Stent untuk majalah Urusan Luar Negeri Universitas Georgetown, Hill mengatakan pembicaraan damai antara Rusia-Ukraina pada April 2022 tampaknya dilakukan oleh pihak Moskow dengan itikad baik.

“Menurut beberapa mantan pejabat senior AS yang kami ajak bicara, pada April 2022, negosiator Rusia dan Ukraina tampaknya telah secara tentatif menyetujui garis besar penyelesaian sementara yang dinegosiasikan: Rusia akan mundur ke posisinya ketika menguasai sebagian wilayah Donbas dan seluruh Krimea, dan sebagai gantinya, Ukraina akan berjanji untuk tidak mencari keanggotaan NATO dan sebagai gantinya menerima jaminan keamanan dari sejumlah negara,” kata artikel itu, yang dikutip Russia Today, Jumat (2/9/2022).

Perjanjian perdamaian-untuk-netralitas diusulkan oleh Ukraina dalam rancangan dokumen yang dikirimkan ke Rusia selama pembicaraan 29 Maret di Istanbul, Turki. Militer Rusia mengumumkan penarikannya dari beberapa bagian Ukraina sebagai isyarat niat baik, tepat setelah tawaran itu dibuat.

Kacau! Ternyata Ini Biang Kerok Rusia & Ukraina Batal Damai

Tetapi beberapa hari kemudian, Presiden Ukraina Vladimir Zelensky menyatakan bahwa Kyiv telah menemukan bukti kejahatan perang di wilayah yang ditinggalkan oleh pasukan Rusia, khususnya di kota Bucha.

Zelensky mengeklaim bahwa publik Ukraina tidak akan mengizinkannya untuk bernegosiasi dengan negara yang, menurutnya, melakukan genosida terhadap rakyatnya.

Namun, Rusia mengatakan bukti kejahatan perang telah dibuat-buat dan menganggap Kyiv telah menggunakan tuduhan itu sebagai dalih untuk menghentikan pembicaraan damai dan melanjutkan pertempuran dengan harapan bantuan militer Barat akan memungkinkannya untuk menang di medan perang.

Menurut diplomat Rusia, Moskow menulis perjanjian perdamaian formal berdasarkan proposal Ukraina dan mengirimkannya ke Kyiv, tetapi tidak pernah mendapat tanggapan apa pun.

Pada Mei lalu, beberapa media Ukraina mengaitkan runtuhnya negosiasi dengan tekanan yang diberikan pada Kyiv oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Pemimpin Inggris itu secara terbuka menentang solusi yang dinegosiasikan untuk krisis di Ukraina dan mendesaknya untuk berjuang untuk mendapatkan posisi yang lebih kuat dalam pembicaraan di masa depan.

Pejabat senior Rusia berulang kali menyatakan bahwa Moskow bersedia untuk menyelesaikan konflik dan memperingatkan bahwa keputusan untuk menghentikan pembicaraan hanya memperburuk kondisi akhir bagi Ukraina. Tetapi para pemimpin di Kyiv bersikeras bahwa pembicaraan hanya bisa terjadi setelah Rusia sepenuhnya menarik pasukannya, termasuk dari Krimea, yang dianggap Moskow sebagai wilayahnya.

Perang Rusia Ukraina 'Makan Korban' Baru? Korsel

Perang Rusia Ukraina ‘Makan Korban’ Baru? Korsel

Korea Selatan (Korsel) sepertinya menjadi korban baru dampak perang Rusia dan Ukraina. Perang yang tak kunjung usai itu menimbulkan ketidakpastian dan berdampak pada pasokan gas negeri itu.

Korsel diketahui sedang bersiap untuk menghadapi krisis energi pada musim dingin mendatang. Karenanya Negeri Ginseng kini melakukan pembelian gas yang cukup besar untuk persediaannya.

Bloomberg menulis bagaimana Seoul, yang merupakan pengimpor bahan bakar dingin terbesar ketiga di dunia, sedang mencari pasokan tambahan agar dapat mencapai target 90% pada November mendatang. Saat ini, jumlah pasokan yang terkumpul baru mencapai 34% saja.

“Itu terjadi setelah gelombang panas di musim panas dan ketidakpastian ‘tinggi’ secara internasional dari konflik Rusia-Ukraina,” kata Kementerian Energi Korsel, Senin (8/8/2022).

Perang Rusia Ukraina 'Makan Korban' Baru? Korsel

“Korea Gas Corp yang dikelola negara telah melakukan pembelian spot sejak April, mengamankan sekitar 3,5 juta ton untuk Juli saja. Persediaan saat ini sekitar 1,81 juta ton, di atas ambang batas minimum 910.000 ton untuk musim dingin,” tambah keterangan kementerian itu.

Saat ini persaingan internasional untuk pasokan gas memang sangat tinggi. Terutama bagi Eropa yang juga sedang memenuhkan penyimpanannya untuk musim dingin mendatang.

Korsel sendiri sejauh ini bergabung dengan Eropa dan negara Barat lainnya dalam mengambil sikap dingin pada Rusia setelah serangan Moskow ke Ukraina. Negeri K-pop itu bahkan juga ikut menjatuhkan beberapa sanksi pada Rusia.

Di bidang energi, Seoul bahkan telah memberi dukungan pada Amerika Serikat (AS) yang berencana untuk menerapkan batas atas pada harga minyak Rusia. Langkah ini dilakukan untuk mendorong inflasi dunia yang terjadi pasca penjatuhan sanksi Barat atas minyak Moskow.

Dunia Kacau! Perang Rusia-Ukraina, China-Taiwan hingga Israel

Dunia Kacau! Perang Rusia-Ukraina, China-Taiwan hingga Israel

Saat ini beberapa negara tengah berperang. Ketegangan antarnegara ini disebabkan oleh berbagai hal seperti wilayah kekuasaan, politik ekonomi dan agama.

Sebut saja perang yang sedang terjadi adalah antara negara Rusia dan Ukraina. Perang telah memasuki hari ke-162 dan sejauh ini, belum ada tanda-tanda mereka selesai, bahkan sejatinya masih bereskalasi.

Tak hanya Rusia dan Ukraina, perang itu pun telah memancing keterlibatan berbagai negara seperti Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya.

Terlibatnya sejumlah negara itu menimbulkan kekhawatiran akan perang yang meluas dengan senjata pemusnah massal seperti nuklir.

Presiden Rusia Vladimir Putin sejatinya membantah bahwa nuklir akan menjadi solusi atas perang tersebut. Namun, kekhawatiran dunia akan penggunaan senjata tersebut masih sulit dihilangkan.

“Kami melanjutkan dari fakta bahwa tidak ada pemenang dalam perang nuklir dan itu tidak boleh dilepaskan, dan kami berdiri untuk keamanan yang sama dan tak terpisahkan untuk semua anggota komunitas dunia,” kata presiden yang juga mantan anggota intelijen Soviet.

Perang itu pun telah menjadi katalis bagi ‘derita’ dunia yang masih berjuang untuk pulih dari pandemi Covid-19.

Perang tersebut telah menyebabkan gangguan rantai pasok global, terutama bagi komoditas pangan dan energi. Sebagai dua negara eksportir gandum dan biji-bijian, perang Rusia dan Ukraina telah menyebabkan harga bahan pangan melonjak.

Meskipun ekspor gandum dari Ukraina baru saja dibuka kembali, dampak yang telah ditimbulkan dalam beberapa bulan terakhir telah memukul sejumlah negara yang sangat bergantung pada impor produk pangan tersebut.

Selain makanan, gangguan pada sektor energi pun telah menjadi ancaman besar bagi dunia. Bagaimana tidak, Rusia saat ini masih menjadi salah satu eksportir migas terbesar dunia. Di sisi lain, Eropa dan Amerika Serikat begitu giat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Negeri Beruang Merah sehingga pasokan migasnya terganggu.

Bahkan, sanksi tersebut kini menjadi senjata makan tuan bagi Eropa yang sekitar 40% kebutuhan energinya dipenuhi oleh Rusia.

Gangguan energi dan pangan tersebut akhirnya melambungkan harga kedua kelompok komoditas global tersebut dan memicu krisis energi di berbagai pelosok dunia. Hasilnya dapat ditebak, ‘hantu’ inflasi kini menghampiri sebagian besar negara di dunia.

Inflasi itu pun datang pada saat yang ‘tidak tepat’. Pasalnya, kenaikan indeks harga konsumen itu berbarengan dengan upaya berbagai negara untuk memulihkan ekonominya setelah terpukul pandemi Covid-19 sejak 2020.

Kondisi itu pun menimbulkan dilema bagi para pemangku kebijakan karena peningkatan suku bunga untuk meredam inflasi akan melemahkan upaya kebangkitan ekonomi sehingga meningkatkan risiko resesi.

Dunia Kacau! Perang Rusia-Ukraina, China-Taiwan hingga Israel

‘Pesta’ Nuklir

Tak hanya persoalan perang di Ukraina, baru-baru ini risiko Perang Dunia 3 kembali muncul dari Asia, tepatnya Korea Utara.

Baru-baru ini, Korea Utara mengatakan intensinya untuk memobilisasi sistem persenjataan nuklir.

Hal ini dilontarkannya tatkala hubungan antara Pyongyang dengan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) memanas.

Dalam pidato untuk menandai gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea atau yang dikenal dengan ‘Hari Kemenangan’, Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un mengatakan AS telah menjadi ancaman besar bagi negaranya.

Ia bahkan mengaku siap bila memang terjadi perang yang melibatkan nuklir antara negaranya dengan Korsel dan AS.

“Angkatan bersenjata kami benar-benar siap untuk menanggapi krisis apa pun, dan pencegahan perang nuklir negara kami juga sepenuhnya siap untuk memobilisasi kekuatan absolutnya dengan setia, akurat, dan segera ke misinya,” katanya dalam sebuah sesi yang ditayangkan media pemerintah dan dikutip Al Jazeera.

Korut sendiri memang diketahui menjadi salah satu negara dengan kepemilikan senjata nuklir. Dalam rilis terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Pyongyang disebut memiliki 40 hingga 50 senjata nuklir.

Di sisi lain, Korsel yang merupakan rivalnya tidak memiliki senjata nuklir. Meski begitu, salah satu sekutu strategis Seoul yakni AS memilikinya.

Dalam data SIPRI, AS adalah salah satu kekuatan nuklir terbesar di dunia. Negeri Paman Sam itu memiliki hingga 5.550 unit hulu ledak nuklir. Angka ini hanya berada di bawah Rusia yang mempunyai hingga 6.255 unit.

China Vs Taiwan

Belum habis masalah perang dan ancaman nuklir antarnegara, dunia kembali dihebohkan oleh kunjungan kontroversial Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

Sebelum rencana kedatangan Pelosi diumumkan pada bulan lalu, hubungan China dan Taiwan sudah menegang.

Beijing menganggap kehadirannya sebagai provokasi besar, meluncurkan peringatan, dan ancaman yang makin keras. Pelosi sendiri merupakan pejabat AS terpilih dengan profil tertinggi yang mengunjungi Taiwan dalam 25 tahun terakhir.

Sampai saat ini China menganggap Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri dan demokratis sebagai wilayahnya dan telah berjanji suatu hari akan mengambil pulau itu, dengan paksa jika perlu.

Jelang kedatangan Pelosi, China pun telah mengirimkan militernya mengelilingi Taiwan dengan ‘dalih’ latihan militer.

Kabar terbaru menyebutkan China akan memulai latihan militer terbesarnya yang mengelilingi Taiwan, sejak Kamis (4/8/2022). Ini merupakan reaksi terbaru pemerintah Presiden Xi Jinping usai kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi yang membuat marah negeri itu.

“Latihan itu belum pernah terjadi sebelumnya dan bahwa rudal akan terbang di atas Taiwan untuk pertama kalinya,” tulis tabloid nasionalis yang dikelola China, Global Times, mengutip analis militer.

“Ini adalah pertama kalinya PLA (tentara China) akan meluncurkan artileri jarak jauh langsung melintasi Selat Taiwan,” kata surat kabar itu.

Ketegangan di Taiwan pun berpotensi meluas dan menimbulkan dampak yang tidak sedikit.

Korea Utara dan Rusia, misalnya, berada di sisi China dan AS cs berusaha mengecam sikap Negeri Tirai Bambu tersebut meskipun tidak secara eksplisit mendukung Taiwan.

Dari sisi ekonomi, ketegangan yang melibatkan China, Taiwan, dan AS itu pun menjadi ancaman bagi rantai pasok cip semikonduktor yang sangat dibutuhkan oleh berbagai sektor industri, termasuk otomotif global.

Gaza- Israel

Pertikaian antara Israel dan Palestina disebabkan oleh politik, untuk merebut kembali wilayah kekuasaan masing-masing.

Sejak tahun 1947, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi 181 untuk membagi wilayah menjadi dua negara.

Pada tahun 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaan namun tanpa mengumumkan titik perbatasan negara dengan jelas.

Sehingga dari sinilah mulai terjadi pertikaian untuk merebut wilayah kekuasaan.

Pada tahun 1988, tepi Barat, Jalur Gaza dan Jerusalem Timur menjadi wilayah teritori Palestina. Status batas garis final antara kedua negara, telah dinegosiasikan.

Namun pembicaraan selama beberapa dekade belum membuahkan hasil. Dari tahun 2008 sampai 2021 sebanyak 6 ribu orang harus kehilangan nyawanya akibat peristiwa pertikaian antara Palestina dan Israel.

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Buka Pintu Negosiasi

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Buka Pintu Negosiasi

Perang Rusia dan Ukraina makin panas setelah memasuki hari ke-161. Meski begitu, di tengah saling gempur, kedua negara ini telah menandatangani perjanjian terpisah sehingga ekspor gandum dan biji-bijian dari Ukraina kembali berlayar.

Pengiriman biji-bijian pertama yang meninggalkan Ukraina di bawah kesepakatan dilaporkan telah mencapai Turki. Kapal yang terdaftar di Sierra Leone, Razoni, berlayar dari pelabuhan Odesa menuju Lebanon pada Senin (1/8/2022) di bawah kesepakatan yang ditengahi oleh Turki dan PBB.

Kapal telah diperiksa oleh anggota Pusat Koordinasi Gabungan, dan kini diharapkan untuk bergerak melalui Selat Bosporus pada Rabu (3/8/2022).

Selain hal ini, berikut fakta-fakta terbaru terkait perang Rusia-Ukraina, seperti dirangkum oleh The Guardian.

6 Update Perang Rusia-Ukraina, Putin Buka Pintu Negosiasi

1. Pengungsi dari Ukraina Capai 10 Juta Orang

PBB mengatakan ada lebih dari 10 juta orang telah menyeberangi perbatasan masuk dan keluar dari Ukraina sejak Rusia meluncurkan serangan pada 24 Februari. Data yang dikumpulkan oleh UNHCR menyatakan bahwa 6.180.345 pengungsi individu dari Ukraina sekarang tercatat di seluruh Eropa, dengan 1,25 juta pengungsi masuk ke Polandia.

2. Operasi Rusia di Ukraina

Dalam pengarahan operasi terbarunya, kementerian pertahanan Rusia mengklaim bahwa serangannya terhadap Radekhov di wilayah Lviv “menghancurkan pangkalan penyimpanan dengan senjata dan amunisi buatan asing yang dikirim ke rezim Kyiv dari Polandia”.

Sebelumnya gubernur Lviv mengakui pemogokan tersebut. Ia mengatakan “satu bangunan rusak. Untungnya, tidak ada yang terluka.”

3. Warga Sipil Melarikan Diri dari Kherson

Kementerian pertahanan Inggris mengatakan kemungkinan akan ada peningkatan warga sipil yang mencoba melarikan diri dari Kherson dan daerah sekitarnya karena permusuhan berlanjut dan kekurangan makanan memburuk, memberi tekanan pada rute transportasi.

Mereka juga mengatakan ada serangan Ukraina terhadap kereta amunisi Rusia di Oblast Kherson, Ukraina selatan. Ini artinya “sangat tidak mungkin” jalur kereta api antara Kherson dan Krimea beroperasi.

4. Instalasi Nuklir

Wakil Menteri Luar Negeri Ukraina, Mykola Tochytskyi, mengulangi permintaan negaranya agar langit di atas instalasi nuklir ditutup untuk mencegah potensi kecelakaan dan penyalahgunaannya.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, fasilitas nuklir sipil telah diubah menjadi target militer dan batu loncatan bagi tentara Rusia yang melanggar ketentuan non-proliferasi tentang penggunaan energi nuklir secara damai,” katanya.

“Dunia menyaksikan bagaimana terorisme nuklir, yang disponsori oleh negara pemilik senjata nuklir, muncul dalam kenyataan. Diperlukan aksi bersama yang kuat untuk mencegah bencana nuklir skala global. Kami meminta untuk menutup langit di atas pembangkit listrik tenaga nuklir di Ukraina,” tambahnya.

5. Negosiasi Putin

Gerhard Schroeder, mantan kanselir Jerman dan teman Vladimir Putin, mengatakan presiden Rusia menginginkan solusi yang dinegosiasikan untuk perang di Ukraina dan kesepakatan tentang pengiriman biji-bijian yang mungkin menawarkan jalan ke depan.

“Kabar baiknya adalah bahwa Kremlin menginginkan solusi yang dinegosiasikan,” kata Schroeder kepada mingguan Stern dan penyiar RTL/ntv, menambahkan bahwa dia telah bertemu Putin di Moskow pekan lalu.

“Keberhasilan pertama adalah kesepakatan biji-bijian, mungkin itu bisa perlahan diperluas menjadi gencatan senjata,” tambahnya.

6. Data Palsu Bantuan ke Ukraina

Pengungsi Ukraina kemungkinan akan menjadi korban dari meningkatnya ketegangan dan kampanye disinformasi di negara mereka, menurut sebuah laporan dari badan amal World Vision.

Menurut mereka, informasi palsu yang membesar-besarkan berapa banyak bantuan yang diterima pengungsi dibandingkan dengan masyarakat lokal, serta menghubungkan pengungsi dengan kejahatan kekerasan dan ekstremisme politik, dapat menyebabkan putusnya hubungan dengan masyarakat lokal.