Sekolah Kesulitan Cegah Penyebaran Covid-19 saat Siswa Berada di Luar

Sekolah Kesulitan Cegah Penyebaran Covid-19 saat Siswa Berada di Luar

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) DKI Jakarta, Arifin mengungkap kekhawatiran pihak sekolah selama menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Menurutnya, sekolah merasa khawatir akan penyebaran Covid-19 pada siswa saat mereka berada di luar sekolah.

Hal tersebut menjadi kendala bagi sekolah dalam mencegah penyebaran Covid-19 pada anak-anak sekolah.

“Ada kendala dari pihak sekolah, menyampaikan kepada kami ketika mereka (siswa) keluar dari sekolah. Ini yang sulit dipantau. Karena di luar sekolah banyak pedagang, anak-anak berhenti di situ, beli makan di situ, sambil makan di situ. Kemudian berkerumun melepaskan masker dan sebagainya,” katanya.

Luar sekolah menjadi titik rawan penyebaran Covid-19 pada anak-anak. Di mana Satgas Covid-19 di sekolah tak mempunyai wewenang untuk menertibkan mereka bila anak-anak sudah berada di luar area sekolah.

Saat mereka ada di luar sekolah, Satpol PP DKI yang mempunyai kuasa untuk mengingatkan para siswa dan pedagang agar tak abai dengan protokol kesehatan.

Pihaknya memperkirakan akan terjadi penambahan paparan di sejumlah sekolah lain menyusul pelaksanaan surveilans atau pengamatan kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) yang akan dilakukan pada beberapa waktu ke depan.

“Kalau perintahnya 50 persen maka akan kami jalankan. Ya nanti kami evaluasi lagi, sekiranya orang tua murid resah atau tidak menginginkan PTM ya nanti kami evaluasi lagi,” katanya.

“Kami bekerjasama dengan Dinas Pendidikan melakukan pengawasan bukan yang di dalam (sekolah). Ketika di dalam sekolah itu lingkup tanggung jawab sekolah. Jadi sekolah yang memang memastikan prokes dilakukan dengan baik,” ujarnya.

Arifin mengungkapkan, pihaknya telah turut mengintervensi wilayah di luar sekolah dengan mengedukasi mereka soal ketaatan terhadap prokes selama pandemi Covid-19.

Dirinya menegaskan tak akan menutup sekolah dan membatasi mobilitas aktivitas warga, asalkan semuanya didasari pada protokol kesehatan.

“Kami masuk di sana terus edukasi ke pedagang maupun siswa untuk gak berkerumun, lepas masker, makan di tempat karena sangat rentan resistensi tinggi kalau mereka berkerumun lepas masker sambil makan ngobrol dan sebagainya. Ini yang kita terus melakukan patroli di sekitar sekolah,” tutupnya.

Terkait apakah adanya rekomendasi Dinkes Kota DKI Jakarta untuk mengevaluasi PTM 100 persen, Husnul menyebut itu bukan wewenangnya. “Untuk kebijakan apakah ada perubahan PTM 100 persen ada di Pak Wali Kota,” pungkasnya.

Akibatnya, PTM 100 persen pun ditiadakan, sekolah ditutup dan para murid, serta guru kembali melakukan pembelajaran daring sejak Selasa 18 Januari 2022 hingga dua pekan ke depan.